Komunitas Warteg: Tempat Nongkrong Murah Meriah, Rasa Juara!

Komunitas Warteg

Komunitas Warteg – Datang dari Tegal, Jawa Tengah, Warung Tegal disingkat Warteg tak lepas dalam denyut nadi kehidupan warga lintas kalangan di kota-kota besar di Indonesia khususnya untuk mereka yang suka menyantap makanan dengan harga terjangkau namun nikmat. 

Bahkan warteg populer dan eksis di sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, Belanda, Jerman, dan Arab Saudi. Porsi besar, harga murah, dan rasa yang menggoyang lidah ini membuat Warteg laris manis. 

Pilihan lauk mulai dari telur, ayam, ikan, hingga bermacam sayuran dan gorengan serta kerupuk membuat warung ini semakin diminati. 

Terlebih suguhan segelas teh manis mampu melepas dahaga saat makan. Menariknya paket komplet ini dibandrol dengan harga berkisar Rp10 ribu hinga Rp20 ribu saja. 

Melihat fenomena eksisnya warteg ini, Rinda Asytuti dalam penelitiannya yang dipublikasikan pada 2015 menyebut bahwa warteg sebagai salah satu bentuk usaha gastronomi berskala mikro yang berada di wilayah urban atau kota.   

Gastronomi adalah istilah untuk menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan penyediaan atau penyajian makanan. Warung Tegal sejak awal kemunculannya selalu berkait erat dengan perkembangan kaum urban dan pemenuhan kebutuhan perutnya. 

Umumnya warteg buka dari pagi hingga malam hari bahkan 24 jam sehari untuk menyediakan sarapan, makan siang, hingga makan malam dengan harga yang sangat bersahabat di kantong konsumen. 

Kehadiran warteg di ibu kota dimulai sejak tahun 1970-an dan diinisiasi oleh anggota komunitas yang berasal dari daerah Sidapurna dan Sidakaton, Tegal yang kemudian para pemiliknya bergabung dalam asosiasi Koperasi Warung Tegal atau Kowarteg untuk mengembangkan bisnis mereka di sejumlah wilayah. 

Seiring perkembangan zaman warteg kemudian berkembang menjadi bisnis kuliner lokal yang tersebar baik di dalam hingga di luar pulau Jawa.

Di samping motif ekonomi, menjamurnya warteg di berbagai daerah terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dikarenakan warteg sudah menjadi tradisi yang sudah dilakukan oleh generasi warga dari daerah tersebut. 

Bagi warga Tegal, budaya merantau dan usaha warteg di kota-kota besar sudah menjadi tradisi turun temurun karena kota tersebut diromantisi oleh mereka sebagai ruang untuk mengubah nasib menjadi lebih baik.  

Secara sosial budaya, menurut peneliti di bidang representasi identitas dan kajian budaya itu, warteg tidak hanya menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, tetapi juga sebagai tempat banyak orang untuk saling bertukar informasi mulai dari hal yang remeh temeh hingga perihal politik. 

Seiring waktu, kepemilikan warteg mengalami perubahan yang sebelumnya hanya dimiliki perorangan kini menjadi sebuah paguyuban untuk orang yang memiliki kekerabatan berdasar kampung halaman maupun tidak. 

Dari hal ini konsepsi tentang warteg memberikan gambaran akan kerja sama berbasis ekonomi yang mengandalkan nilai-nilai tertentu seperti pengertian, kesamaan, konsepsi, dan motivasi serta nilai-nilai sosial lain seperti kepercayaan di antara pemiliknya. 

Dari konsep tradisional ke modern Seiring perkembangan zaman, dari segi konsumen warteg juga telah mengalami pergeseran makna. Dulunya identik dengan kelas menengah bawah kini kerap dinikmati oleh semua golongan. 

Konsep bangunannya pun telah mengalami perubahan, khususnya dari segi warna bangunan, dari mulai biru, hijau, oranye, dan banyak lagi. Tidak hanya itu, sebagai salah satu bisnis kuliner, warteg juga bisa dikatakan sebagai usaha yang tidak hilang termakan zaman. 

Bagaimana tidak? Bisnis yang awalnya dikelola oleh masyarakat secara sederhana kini telah menjelma sebagai gerai makanan dengan konsep modern.

Wahteg Kalimalang adalah warteg berkonsep modern dan kekinian dilengkapi Ac dan wifi. Warteg yang khas dengan bangunan berwarna hijau dan desain interior kekinian ini berada di Jl KH Noer Ali Seberang Grand Metropolitan Bekasi Selatan, Bekasi.  

Filosofi Warteg Secara filosofis, warteg memiliki banyak makna simbolis. Misalnya, dua pintu yang terletak di sisi kanan dan kiri banguan yang menjadi ciri khas warteg pada umumnya memiliki arti tertentu. 

Budayawan asal Tegal Yono Daryono mengatakan bahwa simbol tersebut mengandung makna banyak rejeki. 

Dari segi arsitektur, penempatan dua pintu di sisi kanan kiri bangunan dinilai efektif untuk mencegah antrean panjang pembeli karena karakterisik bangunan warteg yang tidak terlalu luas sehingga pemanfaatan lahan yang kecil sangat dipikirkan oleh mereka supaya pengunjung dapat keluar masuk warteg tanpa harus saling berdesakkan satu sama lain. 

Tidak hanya itu, penggunaan lemari kaca untuk menempatkan berbagai jenis makanan yang ditawarkan warteg juga sangat memudahkan pembeli memilih makanan yang mereka suka, tanpa harus berpindah tempat yang berpotensi mengganggu pembeli lainnya. 

Makanan yang disajikan pun identik dengan makanan khas pertanian lokal, seperti sayur lodeh, sayur asem, tempe orek, sayur daun singkong, sayur bayam, tumis kangkung, sambal. 

Yono Daryono mengatakan, hal itu merupakan hasil tani dan ladang masyarakat setempat yang dimasak dengan bumbu minimalis supaya harganya terjangkau. Lalu, bangku panjang yang umumnya terdapat di depan lemari kaca untuk pengunjung yang ingin makan di tempat. 

Keberadaan bangkut semacam itu diartikan sebagai simbol kesetaraan (equality). Mereka yang datang dari berbagai kalangan dan kelas dapat saling berbincang-bincang tentang berbagai topik sambil menyantap hidangan warteg.

Komunitas Warteg

  • Kowantara

Ketua Kowantara, Mukroni, mendirikan komunitas itu sebagai paguyuban pada 2003 dan kemudian diresmikan menjadi komunitas pada 2013

Ketua Komunitas Warteg Nusantara, Mukroni, mengaku pada awal mulanya Kowantara dibentuk dengan tujuan dilahturahmi, agar para pemilik warteg dapat saling kenal dan berkumpul bersama. Namun, kini fungsinya sudah berkembang menjadi lebih luas.

“ Jadi silaturahmi istilahnya, sebagi bentuk persaudaraan antar-para pegiat warteg. Yang kedua, ya kalau bisa kita menggerakkan ekonomi, kita nanti akan mendirikan beberapa koperasi,“ kata Mukroni.

Koperasi yang dimaksud Mukroni juga diberi nama Kowantara, yakni Koperasi Warteg Nusantara. Koperasi-koperasi tersebut digunakan oleh komunitas itu untuk membeli bahan-bahan dasar makanan dalam jumlah besar dan disalurkan kepada para anggota.

“Itu ide kita, gagasan kita untuk mewadahi agar mereka para pemilik warteg] dapat memperoleh harga bahan sembako, bahan pokok untuk kebutuhan warteg dengan harga yang cukup murah dan berkualitas,“ ujarnya.

Koperasi itu ternyata menjadi sangat berguna dalam mengatasi lonjakan harga bahan pangan, terutama minyak goreng yang sempat mengalami kelangkaan di pasar. Ada pula bahan makanan lain seperti beras dan telur yang disediakan oleh koperasi.

“Jadi kalau kita kompak, kalau kita bersama solid, kita akan bisa mendapatkan harga murah, barangnya berkualitas,“ lanjutnya.

Selain menyediakan bahan makanan dengan harga terjangkau, Kowantara juga mengadakan pelatihan-pelatihan untuk anggotanya yang ingin meningkatkan skill mereka di bidang kuliner, baik itu dari segi kesehatan ataupun modifikasi menu.

“Kita pernah kerjasama itu dengan Unilever, misalnya dengan bahan baku yang murah tapi tidak mengandung bahan kimia.

Jadi masih ada keterkaitan dengan makanan. Dari segi halal, kesehatan, kebersihan, ya terus pembiayaan, akses. Misalnya ada bank yang mau menyalurkan PUR, monggo silakan daftar.

Lebih lanjut, Mukroni mengatakan bahwa Kowantara juga membantu legalitas usaha para anggotanya dengan dalam pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB).

Dengan memiliki NIB, sambungnya, para pemilik warteg dapat dipermudah dalam mengakses layanan perbankan dan terdaftar untuk menerima bantuan pemerintah.

Program-program tersebut direncanakan bersama pada pertemuan para anggota yang digelar sekali setiap bulan di wilayah masing-masing. Sementara, untuk acara pertemuan para anggota secara nasional, biasanya diadakan setahun sekali.

“Itu per Kanwil biasanya. Misalnya di Bogor, terus nanti kan jaraknya lumayan, makanya kita datangi. Ayo di Bogor adakan Kopdar [Kopi Darat], nanti kita bisa sambil arisan.

“Makanannya juga enggak jauh-jauh dari warteg atau dari biasanya kupat, kupat khas Tegal atau tauco/ Ya paling nggak opor ayam, warteg ini kan makanan rumah. Jadi kan enggak susah,” ujar Mukroni sambil tertawa.

Selain itu, Tarsih, yang juga menjabat sebagai sekretaris Kowantara, mengatakan bahwa komunitas itu seringkali menjadi wadah penyaluran aspirasi para pengusaha warteg.

“Kalau ada peraturan-peraturan pemerintah yang kayaknya merugikan. Kemarin waktu Warteg mau dikenakan pajak, berat banget karena yang makan [di warteg] bukan orang-orang yang banyak duit,” kata Tarsih.

Warung Tegal atau warteg adalah jenis usaha yang menyediakan makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Sebutan warteg seolah menjadi nama generik untuk warung makan kelas menengah ke bawah. Sementara di Tegal justru tidak dikenal adanya sebutan warteg.

Pada 1950-an, sejumlah penduduk dari Tegal bermigrasi ke Jakarta untuk terlibat dalam pembangunan kota. 

Beberapa di antaranya membuka warung makan bagi para pekerja pembangunan. Pada kemudian hari, warteg berkembang pendapatannya hingga mampu menyumbang ekonomi di tempat asalnya.

Meski menu makanan yang disajikan hampir sama, warteg sudah berkembang menjadi budaya populer. 

Terdapat puluhan ribu warteg dari sejumlah wadah koperasi pengelola warteg yang tersebar di Jabodetabek, di antaranya melalui skema waralaba. Makanan murah yang dulunya untuk rakyat kecil sekarang menjadi makanan yang disukai semua kalangan.

Gambaran Umum Suasana Warteg

Pada umumnya nasi dan lauk diracik pihak warteg, tetapi ada juga warteg dengan model prasmanan. Warteg dikenal dengan porsinya yang melimpah, biasanya akan diberi pilihan, nasi satu porsi atau setengah porsi. 

Pengunjung warteg akan melihat makanan di etalase kaca dan menunjuk makanan yang diinginkan. Selain etalase kaca tertutup, ada yang memakai etalase kaca geser sehingga pembeli bisa mengambil makanan sendiri, misalnya gorengan yang diletakkan di dalam etalase.

Biasanya terdapat plastik berisi air yang digantung. Air membiaskan cahaya sehingga menyilaukan lalat dan menjauh dari makanan. Air minum gratis diberikan pilihan, air putih atau teh tanpa gula. Minuman berbayar, seperti teh manis atau sirup, diberi tanda sedotan di gelasnya.

Meskipun ada yang memakai mesin penghitung, sebagian besar penghitungan pembayaran dilakukan secara manual dengan mengingat, berapa pun jumlah makanan dan minumannya. Beberapa warteg juga menerapkan pembayaran non-tunai, misalnya melalui dompet digital.

Jika kamu adalah anak muda yang mungkin terlalu sibuk atau tinggal di rumah kost yang tidak menyediakan fasilitas memasak, warteg biasa menjadi pilihan makan tercepat dan termurah. 

Selain praktis, makanan sudah dimasak dan tinggal pilih, warteg banyak terdapat di area tempat tinggal. Tahukah kamu, selain harganya lebih murah dan banyak pilihan, menu warteg ternyata bisa lebih sehat ketimbang junkfood?

Sebetulnya, kebutuhan nutrisi agar kita tetap produktif bisa didapatkan dari makanan warteg, lho! Lengkap mulai dari karbohidrat, lemak, protein, dan berbagai vitamin ada di menu masakan warteg. 

Nah, alangkah semakin baik jika kita memilih menu yang sehat, tepat, rendah gula dan garam, serta aman dari lemak jenuh.

5 menu di bawah bisa jadi pertimbangan kamu untuk memilih hidangan warteg yang sehat, murah, juga nikmat:

  • Sayur Sop

Sayur sop bening berisi wortel, kol, kentang, dan kadang ditambahkan potongan ayam bisa jadi menu andalan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi. Kandungan vitamin dan protein bisa didapatkan dari sayur sop. Hampir selalu bisa ditemukan di warteg, sayur berkuah ini selalu cocok dipadukan dengan nasi dan macam-macam lauknya.

  • Pepes Ikan

Ikan adalah sumber protein hewani yang murah dan mudah didapat, terutama di Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Beberapa jenis ikan yang selalu ada di warteg adalah olahan ikan tongkol, bawal, ikan mas, nila, dan kembung.

Kamu bisa pilih menu ikan yang lebih sehat, yaitu pepes ikan. Pepes ikan diolah tanpa digoreng, sehingga mengurangi lemak jenuh pada menu makanan. Tentunya pepes ikan juga tidak kalah lezat dibanding ikan goreng atau ikan bumbu balado!

  • Sayur Tahu dan Tempe

Olahan tahu dan tempe juga selalu jadi menu andalan warteg. Namun sebaiknya kita pilih olahan yang rendah gula dan garam. Ketimbang memesan orek tempe yang cukup tinggi kandungan gula dan garam, kita bisa memilih tahu dan tempe yang dimasak dengan kuah kuning atau kuah pedas.

  • Tumis Kangkung

Tumis kangkung memang langganan menjadi menu favorit. Selain pasti ada di warteg, masakan satu ini cocok dipadukan dengan nasi dan berbagai macam lauk. Kangkung bisa jadi pilihan untuk menambahkan asupan serat.

Kangkung juga kaya akan zat besi yang bisa meningkatkan produksi sel darah merah yang diperlukan untuk mengangkut oksigen ke jantung.

  • Cah Jamur

Bosan dengan cap cay atau buncis? Selalu ada pilihan cah jamur di warteg. Jamur tiram yang diolah dengan cara ditumis dan sedikit berkuah, selain memiliki citarasa yang menggugah, juga bisa jadi sumber protein yang lezat.

Link Komunitas Warteg

Demikianlah pembahasan mengenai komunitas Warteg. Semoga berguna untuk kita semua, sekian terima kasih.

Leave a Comment